Perkenalkan dirimu pada dunia dengan tulisanmu

Senin, 20 Juli 2015

Ayahku

      3 mei 2015, saat subuh tiba-tiba ayahku muntah muntah dan pingsan, pas sadar langsung muntah-muntah, aku langsung telpon pakde ku yang ada di candisari sari tak lama kemuadian keluarga-keluarga datang, dan ayaku dibawak ke gus deni tapi gus deni masih tidak ditempat, beliau perjalanan pulang dari kalmantan dan datangnya jam 11, waktu itu masih jam 8 jadi terpaksa nunggu gus deni karena pakdeku tidak mau membawa ke rumah sakit alasannya biar dekat rumah dan pulang perginya enak, yauda ibukku menurutinya. Jam 11 gus deni datang dan di cek dan ternyata ayahku pendarahan otak. Dan diberi air lalu disuruh menunggu sampe sore, jika agak baikan tetep disini saja, dan jika tetep pingsan dan muntah-muntah dibawak kerumah sakit. Sorenya keadaan ayahku tetap akhirnya dibawak ke rumah sakit, nyampe UGD di cek ternyata bapakku harus dirawat di ruang ICU, penyakitnya parah kata perwatnya yaitu pendarahan otak. Di UGD aku sama ibuk menunggu kamar dari habis maghrib sampai jam 2 malam, jam 2 malam ayahku di ronsen biar tahu penyakitnya lalu di bawak ke ruang ICU sebelum masuk ICU aku sama ibu duduk diruang tunggu kemudian dipanggil dan ayaku pindah ranjang waktu itu bapakku masih sadar dan bisa pindah sendiri. Lalu aku sama ibuk masuk ruangan dan dibilangin kalo penyakitnya bapak sudah parah, di dalam ICU juga buka sulapan yang bisa langsung sebuh tapi juga ada yang namanya kegagalan yaitu pasien meninggal, jadi aku sama ibu disuruh berdo’a dan menata hati agar ikhlas jika terjadi apa-apa.
           5 hari ayahku di ICU, aku dan ibu tidur di depan kamar ICU. Bisa melihat hanya jam 10 siang dan 4 sore. Waktu itu bertepatan dengan 40 harinya nenekku yang meninggal (ibu kandung dari nenekku), ayahku pindah kamar di HCU, waktu dipanggil dari pihak ICU aku dan ibu merasa senang dan sedih, senang karena bapak bisa pindah, sedih karena bapak belum sadar.  Akhirnya bisa setiap hari menjaga bapak di kamar HCU, kamarnya ber AC, waktu malam aku dan ibu kedinginan, bapak masih setengah sadar tidak bisa bicara hanya bisa melihat tapi kadang pandangan kosong kadang juga melihat aku dan ibu dengan air mata yang mengalir. 4 hari diruang ICU tak ada perkembangan akhirnya dokter memutuskan untuk pindah di ruang biasa dengan keadaan bapakku yang belum sadar, entah karena apa, mungkin kamarnya mahal 1 harinya 400 ribu sedangkan bapak memakai bpjs.
          Pada akhirnya ayah satu kamar dengan orang-orang yang sakitnya tidak akut seperti ayah, seperti patah tulang sakit typus. Di dalam kamar pengunjang sangat ramai. Wajar saja tidak seperti kamar HCU yang hanya boleh ditunggu 1 atau 2 orang dan penjenguk tidak boleh masuk. Genap 8 hari ayah di kamar di biasa dan jika dihitung sudah 17 hari ayah dirawat. Waktu  itu aku  kuliah tapi perasaanku sangat tidak enak. Pulang kuliah aku  mau ngerjakan tugas di depan komputer, baru buka komputer aku ditelpon ibuk kalau bapak nafasnya ngosngosan, aku langsung menutup komputer dan langsung menuju rumah sakit dan ternyta betul bapak nafasnya ngos ngosan, waktu itu ada pakde, lek sona, saudara yang dari sepanjang dan saudara dari mojokerto. Aku dan ibu membaca yasin agar ayah nafasnya agak mendingan. Waktu jam set.9 malam aku diajak lekku beli es teh, nyampe kantin ternyata lekku ngajak makan bakso tapi aku tidak mau karena pingin cepat balik ke kamar. Tapi lekku memaksa, tinggal dua 3 pentol belum aku makan tiba2 ibuuku telpon bilang kalau bapak sudah tiada, aku langsung cepat-cepat balik ke kamar dan seperti tak percaya bahwa ayahku sudah tidak bernafas lagi, akupun menangis sampai membereskan tas-tas untuk dibawah pulang, kemudian aku dibisikkai pakde bahwa ayahku sakit dari ayah sendiri dan dari orang lain (santet). Aku menyesal sudah makan bakso jadi tidak tahu kepergian ayah. Lalu almarhum ayahku sampai rumah jam 11 malam  karena harus menunggu administrasi dari pihak rumah sakit.
       

                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar