5 hari
ayahku di ICU, aku dan ibu tidur di depan kamar ICU. Bisa melihat hanya jam 10
siang dan 4 sore. Waktu itu bertepatan dengan 40 harinya nenekku yang meninggal
(ibu kandung dari nenekku), ayahku pindah kamar di HCU, waktu dipanggil dari
pihak ICU aku dan ibu merasa senang dan sedih, senang karena bapak bisa pindah,
sedih karena bapak belum sadar. Akhirnya
bisa setiap hari menjaga bapak di kamar HCU, kamarnya ber AC, waktu malam aku
dan ibu kedinginan, bapak masih setengah sadar tidak bisa bicara hanya bisa
melihat tapi kadang pandangan kosong kadang juga melihat aku dan ibu dengan air
mata yang mengalir. 4 hari diruang ICU tak ada perkembangan akhirnya dokter
memutuskan untuk pindah di ruang biasa dengan keadaan bapakku yang belum sadar,
entah karena apa, mungkin kamarnya mahal 1 harinya 400 ribu sedangkan bapak
memakai bpjs.
Pada akhirnya
ayah satu kamar dengan orang-orang yang sakitnya tidak akut seperti ayah,
seperti patah tulang sakit typus. Di dalam kamar pengunjang sangat ramai. Wajar
saja tidak seperti kamar HCU yang hanya boleh ditunggu 1 atau 2 orang dan
penjenguk tidak boleh masuk. Genap 8 hari ayah di kamar di biasa dan jika
dihitung sudah 17 hari ayah dirawat. Waktu itu aku kuliah tapi perasaanku sangat tidak enak. Pulang
kuliah aku mau ngerjakan tugas di depan
komputer, baru buka komputer aku ditelpon ibuk kalau bapak nafasnya ngosngosan,
aku langsung menutup komputer dan langsung menuju rumah sakit dan ternyta betul
bapak nafasnya ngos ngosan, waktu itu ada pakde, lek sona, saudara yang dari
sepanjang dan saudara dari mojokerto. Aku dan ibu membaca yasin agar ayah
nafasnya agak mendingan. Waktu jam set.9 malam aku diajak lekku beli es teh,
nyampe kantin ternyata lekku ngajak makan bakso tapi aku tidak mau karena
pingin cepat balik ke kamar. Tapi lekku memaksa, tinggal dua 3 pentol belum aku
makan tiba2 ibuuku telpon bilang kalau bapak sudah tiada, aku langsung
cepat-cepat balik ke kamar dan seperti tak percaya bahwa ayahku sudah tidak
bernafas lagi, akupun menangis sampai membereskan tas-tas untuk dibawah pulang,
kemudian aku dibisikkai pakde bahwa ayahku sakit dari ayah sendiri dan dari
orang lain (santet). Aku menyesal sudah makan bakso jadi tidak tahu kepergian
ayah. Lalu almarhum ayahku sampai rumah jam 11 malam karena harus menunggu administrasi dari pihak
rumah sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar