Perkenalkan dirimu pada dunia dengan tulisanmu

Jumat, 21 September 2012

SAYANGILAH LINGKUNGAN


SAYANGILAH  LINGKUNGAN 


Berbicara tentang lingkungan pasti erat kaitannya dengan kehidupan, karena tanpa tercipta lingkungan tanpa tercipta pula kehidupan. Memang Tuhan maha sempurna yang telah menciptakan lingkungan hidup untuk makhluk ciptaanNya. Kita semua pasti sudah merasakan lingkungan hidup di sekitar kita seperti laut untuk para nelayan mencari ikan untuk kebutuhan sehari-hari, sawah untuk para petani memanen padi yang hasilnya bisa kita nikmati berupa beras untuk makanan pokok sehari-hari. Selain itu, masih banyak contoh-contoh lingkungan hidup yang bisa kita nikmati.
          Kita sebagai umat manusia haruslah punya rasa cinta terhadap lingkungan hidup agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa mendatang. Cinta terhadap lingkungan haruslah tertanam sejak dini karena sesuatu yang dimulai sejak dini akan terasa ringan jika dilakukan di masa dewasa kelak. Peduli lingkungan yang sejak dini dapat dilakukan dengan cara misalnya anak kecil diberi pengetahuan bahwa tanaman itu penting bagi kehidupan serta diberi pengertian bahwa tanaman itu menyerap CO2 dan mengeluarkan O2 sedangkan O2 itu sendiri merupakan gas yang setiap hari kita hirup. Jika O2 di lingkungan kita minim yang disebabkan oleh tumbuhan yang minim, maka kita akan kesulitan bernafas dan dapat juga menyebabkan sesak nafas. Maka dari itu marilah kita berusaha mengupayakan penanaman yang mencukupi agar tercipta lingkungan yang asri.
          Peduli lingkungan hidup bisa kita lakukan dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Banyak orang yang menganggap hal tersebut adalah hal yang sepele yang kadang sering diabaikan oleh masyarakat, padahal lingkungan yang tak ada sampah-sampah yang berserakan akan terlihan lebih enak dipandang dan nyaman ditempati dibandingkan dengan lingkungan yang banyak sampah-sampah.
          Segala sesuatu di lingkungan kita pasti ada manfaatnya. Dari rumput liar sampai rumput hias, rumput liar bisa bermanfaat bagi para penggembala sapi/kambing karena ia bisa mencari rumput liar untuk makanan sapi/kambing tanpa harus mahal-mahal untuk membeli rumput. Jika rumput liar saja mempunyai manfaat apalagi  rumput hias, rumah yang ditumbuhi rumput hias akan terasa lebih sejuk dan membuat mata menjadi segar melihatnya.
          Lingkungan hidup juga kadang bisa memengaruhi pola pikir kita, contoh, jika di pagi hari kita membuka jendela dan merasakan udara sejuk pasti secara tidak langsung otak kita akan berpikir ke hal positif seperti senang, semangat, dan lain lain. Berbeda jika kita sedang berada di jalan yang cuacanya panas, banyak polusi dan banyak kerumunan orang pasti secara tidak langsung juga otak kita akan berpikir ke hal negatif seperti malas, tidak mut, kesal, capek dan sebagainya.
          Kenapa kebanyakan di daerah perumahan itu sering terjadi banjir? itu adalah akibat dari tidak cinta terhadap lingkungan, karena umumnya selokan di daerah perumahan dipersempit, akhirnya jika terjadi hujan kurang ada penampungan air. Padahal selokan itu penting sebagai aliran air untuk mencegah banjir. Tetapi di zaman yang modern ini banyak masyarakat yang salah mempergunakan selokan untuk membuang sampah, akhirnya selokan menjadi kotor. Saya masih ingat waktu saya kecil dulu selokan di depan rumah saya sangat jernih dan bersih, kadang pula di buat mandi, tapi sekarang keadaan selokan sangat berbalik yaitu tidak bersih dan jernih lagi seperti dulu. Jika lingkungan hidup nyaman, maka hidup akan tentram, masyarakat damai, keluarga senang, maka lahirlah senyum bahagia.

AYAM KELAPARAN DI LUBUNG PADI


Ayam Kelaparan di Lubung Padi
Oleh : Faizatun Nailis Sa’adah
Negara Indonesia terkenal dengan Negara agraris, yaitu Negara yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencahrian bercocok tanam. Namun jika banyaknya lahan pertanian yang digunakan sebagai industri pabrik, perumahan, mall , dll dan para petani – petani kekurangan lahan untuk bercocok tanam apakah Negara ini tetap disebut Negara agraris?. Hal ini juga terjadi pada masyarakat petani kecil dalam artian lahan pertaniannya kecil ia lebih memilih menjual lahan sawahnya karena dirasa tidak memperolah keuntungan yang besar. Gimana jadinya jikalau semua petani berfikiran seperti itu?.
Luas lahan pertanian di Indonesia sekitar 13 juta hektar. Jika dibagi dengan jumlah petani pangan sebanyak 30 juta orang, maka perpetani hanya sebatas 0,3 hingga 0,4 hektar.
Adapun menurut saya ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkurangnya lahan pertanian, diantaranya :
a.   Pembangunan Lahan Industri yang semakin padat.
Masyarakat berfikir bahwa pembangunan pabrik akan menurunkan angka pengangguran, hal itu memang benar. Tapi disebabkan tidak adanya lahan kosong untuk pembangunan pabrik jadi sebagian masyarakat berfikir bahwa lahan pertanian / sawah adalah lahan yang cocok untuk dibangunnya pabrik.
b.  Kurangnya Pengairan
Karena disebabkan bnyaknya pabrik - pabrik industri yang menghasilkan limbah yang kemudian bibuang di sungai menyebabkan air tersebut sudah terkontaminasi racun – racun dari limbah industri pabrik sehingga menyebabkan air yang digunakan untuk pengairan sawah menjadi terancam serta air yang sesuai untuk pengairan sawah menjadi berkurang. Dan hal itu yang menjadikan lahan sawah menjadi rusak karena kurangnya pengairan.
c.   Kepadatan penduduk.
Setiap orang pasti membutuhkan tempat tinggal, karena semakin banyak penduduk semakin bertambah pula lahan yang digunakan untuk bertempat tinggal. Setiap orang lebih suka bertempat tinggal di lahan yang yang subur karena mudah untuk ditanami sesuai apa yang diinginkan seperti tanaman obat- obatan dan sayur – sayuran yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari – hari. Untuk mendapatkan lahan yang seperti itu biasanya seseorang menggunakan lahan pertanian, dan hal itu yang membuat semakin maraknya perumahan – perumahan yang dibangun dilahan persawahan.
Hal tersebut  seharusnya perlu adanya perhatian dari pemerintah agar berkurangnya lahan pertanian tidak bertambah banyak, meskipun hal tersebut belum terlihat dampaknya tapi untuk dimasa depan akan terlihat yaitu menyebabkan kekurangan bahan pangan, impor bahan pangan ke Negara lain akan dilakukan dan hal itu sangat merugikan bagi Negara Indonesia. Kesadaran dari masyarakat mengenai hal itu masih kurang.
Selain faktor yang disebutkan tadi ada juga factor yang lebih dominan yaitu ke egoisan dari pihak tertentu, ada salah satu pihak yang hanya mementingkan materi saja tanpa memikirkan kesejahteraan, seperti contoh lahan sawah yang dijadikan babrik, pihak tertentu berfikir bahwa pembangunan pabrik menghasilkan keuntugan yang sangat besar meskipun dengan menghilangkan lahan sawah, jika dipikirkan kembali tentunya hal itu kurang tepat karena sawah juga meghasilkan keuntungan yang lebih dari itu jika dikelola dengan baik.
“Makan nasi tapi menjual bubur” itulah kalimat yang menggambarkan orang yang tak mau bekerja keras tapi ingin menghasilkan hasil yang memuaskan, dan mungkin hal itu banyak dialami oleh masyarakat indonesia. Seperti contoh : orang yang tidak mau mengelola sawah miliknya karena tidak mau bersusah – susah dan lebih memilih bekerja di perusahaan, padahal penghasilan dari persawahan jika sudah panen menghasilkan keuntungan yang cukup besar dibandingkan bekerja di perusahaan.
Bagaikan ayam kelaparan dilubung padi jikalau masyarakat  di Negara Indonesia ini kekurangan bahan pangan padahal pada dasarnya Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan hal itu. Menurut sepengetahuan saya Negara Indonesia lebih banyak impor bahan pangan dari luar negri dan petani bahan pangan seperti rempah-rempah, beras, cabai kedelai dll mulai khawatir akan hal itu, petani bahan pangan mulai merasa masyarakat Indonesia mulai tidak menghargai hasil yang diperoleh di negaranya, lebih senang produk luar negri dari pada produk dalam negri, padahal hal itu sangat merugikan bagi masyarakai itu sendiri tapi menguntungkan bagi Negara lain.
Kata terakhir dari saya Semoga Negara Indonesia tetap menjadi Negara yang gemah ripah loh jinawi selamanya.   Sekian dari saya.