Ayam
Kelaparan di Lubung Padi
Oleh :
Faizatun Nailis Sa’adah
Negara
Indonesia terkenal dengan Negara agraris, yaitu Negara yang sebagian besar
penduduknya mempunyai mata pencahrian bercocok tanam. Namun jika banyaknya
lahan pertanian yang digunakan sebagai industri pabrik, perumahan, mall , dll
dan para petani – petani kekurangan lahan untuk bercocok tanam apakah Negara
ini tetap disebut Negara agraris?. Hal ini juga terjadi pada masyarakat petani
kecil dalam artian lahan pertaniannya kecil ia lebih memilih menjual lahan
sawahnya karena dirasa tidak memperolah keuntungan yang besar. Gimana jadinya
jikalau semua petani berfikiran seperti itu?.
Luas lahan
pertanian di Indonesia sekitar 13 juta hektar. Jika dibagi dengan jumlah petani
pangan sebanyak 30 juta orang, maka perpetani hanya sebatas 0,3 hingga 0,4
hektar.
Adapun
menurut saya ada beberapa faktor yang mempengaruhi berkurangnya lahan pertanian,
diantaranya :
a. Pembangunan Lahan Industri
yang semakin padat.
Masyarakat berfikir bahwa pembangunan pabrik akan
menurunkan angka pengangguran, hal itu memang benar. Tapi disebabkan tidak
adanya lahan kosong untuk pembangunan pabrik jadi sebagian masyarakat berfikir
bahwa lahan pertanian / sawah adalah lahan yang cocok untuk dibangunnya pabrik.
b. Kurangnya Pengairan
Karena disebabkan bnyaknya pabrik - pabrik
industri yang menghasilkan limbah yang kemudian bibuang di sungai menyebabkan
air tersebut sudah terkontaminasi racun – racun dari limbah industri pabrik
sehingga menyebabkan air yang digunakan untuk pengairan sawah menjadi terancam
serta air yang sesuai untuk pengairan sawah menjadi berkurang. Dan hal itu yang
menjadikan lahan sawah menjadi rusak karena kurangnya pengairan.
c. Kepadatan penduduk.
Setiap orang pasti membutuhkan tempat tinggal,
karena semakin banyak penduduk semakin bertambah pula lahan yang digunakan
untuk bertempat tinggal. Setiap orang lebih suka bertempat tinggal di lahan
yang yang subur karena mudah untuk ditanami sesuai apa yang diinginkan seperti
tanaman obat- obatan dan sayur – sayuran yang bisa digunakan untuk kebutuhan
sehari – hari. Untuk mendapatkan lahan yang seperti itu biasanya seseorang
menggunakan lahan pertanian, dan hal itu yang membuat semakin maraknya
perumahan – perumahan yang dibangun dilahan persawahan.
Hal
tersebut seharusnya perlu adanya
perhatian dari pemerintah agar berkurangnya lahan pertanian tidak bertambah
banyak, meskipun hal tersebut belum terlihat dampaknya tapi untuk dimasa depan
akan terlihat yaitu menyebabkan kekurangan bahan pangan, impor bahan pangan ke
Negara lain akan dilakukan dan hal itu sangat merugikan bagi Negara Indonesia. Kesadaran
dari masyarakat mengenai hal itu masih kurang.
Selain faktor
yang disebutkan tadi ada juga factor yang lebih dominan yaitu ke egoisan dari
pihak tertentu, ada salah satu pihak yang hanya mementingkan materi saja tanpa
memikirkan kesejahteraan, seperti contoh lahan sawah yang dijadikan babrik,
pihak tertentu berfikir bahwa pembangunan pabrik menghasilkan keuntugan yang
sangat besar meskipun dengan menghilangkan lahan sawah, jika dipikirkan kembali
tentunya hal itu kurang tepat karena sawah juga meghasilkan keuntungan yang
lebih dari itu jika dikelola dengan baik.
“Makan nasi
tapi menjual bubur” itulah kalimat yang menggambarkan orang yang tak mau
bekerja keras tapi ingin menghasilkan hasil yang memuaskan, dan mungkin hal itu
banyak dialami oleh masyarakat indonesia. Seperti contoh : orang yang tidak mau
mengelola sawah miliknya karena tidak mau bersusah – susah dan lebih memilih
bekerja di perusahaan, padahal penghasilan dari persawahan jika sudah panen
menghasilkan keuntungan yang cukup besar dibandingkan bekerja di perusahaan.
Bagaikan
ayam kelaparan dilubung padi jikalau masyarakat
di Negara Indonesia ini kekurangan bahan pangan padahal pada dasarnya
Negara Indonesia adalah Negara yang kaya akan hal itu. Menurut sepengetahuan
saya Negara Indonesia lebih banyak impor bahan pangan dari luar negri dan
petani bahan pangan seperti rempah-rempah, beras, cabai kedelai dll mulai
khawatir akan hal itu, petani bahan pangan mulai merasa masyarakat Indonesia
mulai tidak menghargai hasil yang diperoleh di negaranya, lebih senang produk
luar negri dari pada produk dalam negri, padahal hal itu sangat merugikan bagi
masyarakai itu sendiri tapi menguntungkan bagi Negara lain.
Kata
terakhir dari saya Semoga Negara Indonesia tetap menjadi Negara yang gemah
ripah loh jinawi selamanya. Sekian dari
saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar